Rabu, 21 Oktober 2009

Jangan khianati Wanita ..bakal Repot

Hehe ..tentu saja yang saya maksud wanita disini adalah ILMU. Kalau Anda sempat baca tulisan iseng saya dalam kategori artikel semau gue tentunya saat ini Anda sudah mempunyai sugesti bahwa

* saya adalah mesin juara
* bahasa inggris ternyata mudah
* saya ternyata sangat berbakat

Nah sugesti2 ini harus melebur dalam darah Anda sehingga menjadi plugins yang menyatu dalam alam semesta diri Anda. Karena sugesti tersebut akan memerintahkan otak Anda, dan otak akan perintahkan pada seluruh organ penginderaan untuk mensetting ulang diri Anda sebagai mesin juara

Selanjutnya saya juga sudah memposting apa rahasia ilmu itu, dan terakhir adalah trik berburu Ilmu. Trik2 itu bermanfaat untuk perjalanan Anda dalam belajar mandiri kelak. Yang perlu Anda camkan adalah sekali Anda sudah membuat seorang wanita (red : ingat setiap saya katakan wanita maksudnya adalah ILMU). tertarik pada Anda, memberikan respon Anda jangan mundur.

Dalam mempelajari sesuatu pada mulanya Anda merasakan susah, bingung dimana selah nya – tetapi Anda ngotot nyruduk terus maka lama kelamaan Anda akan merasakan kemudahan. Sebagaimana halnya sifat wanita, walaupun pada awalnya menolak, kalau Anda tetap maju terus dengan berbagai cara, biasanya ujung-ujungnya akan luluh dan membuka hatinya untuk Anda

Wanita adalah makhluk verbal. Mempunyai potensi penguasaan bahasa yang lebih tinggi daripada pria. Itulah sebabnya bayi perempuan cenderung lebih cepat bisa bicara daripada bayi laki-laki. Yang crewet ya wanita, istilah nene gambreng ya ada di wanita, fakultas Bahasa pun lebih banyak wanita nya, coba aja amati kalau ga percaya.

Sebagai makhluk verbal, apa yang diucapkan oleh seorang wanita adalah gambaran keputusan hati nya. Saat seorang wanita mengatakan ‘aku kangen’ .. ya memang tidak dibuat-buat apa adanya, saat saya mengatakan ‘aku sayang kamu’ ..itu memang benar2 dari hatinya. Bagi seorang wanita UCAPAN VERBAL itu ga sembarang dikeluarkan seperti halnya cowo, Pendekar 1000 Gombal.

Makanya wajar, kalau wanita itu tidak sembarangan mengatakan ‘ya aku menerima kamu sebagai pacarku’ … walah, bagi wanita itu sama saja proses penyerahan kedaulatan dimana Anda diangkat menjadi raja di hati nya – dan hati wanita adalah alam semesta nya. Itulah sebabnya wanita SANGAT MEMEGANG UCAPAN Anda, ..sangat memegang janji2 Anda, dan sangat sakit hati saat Anda mengingkari apa yang Anda ucapkan. Beda dengan cowo, janji2 keluar seperti peluru lepas dari senapan otomatis AK40…hihi.

Wanita adalah makhluk verbal, dalam berpikir menggunakan tatanan bahasa verbal yang teratur. Itulah sebabnya jika terjadi perselisihan antara cowo dan cewe – wanita cenderung akan membahas permasalahan satu demi satu kalau perlu dari awal. Sedangkan cowo berpikir wholistic, udah ga tahan dengerin penjelasan step by step si wanita maunya langsung to the point saja.

Yah, begitulah memang wanita, sebagaimana ilmu, gampang2 sudah. Yang mencari belum tentu dapat, kadang yang ga mencari malah mendapatkan

Haduh kok jadi belok, kembali ke Ilmu ya. Begitupun ilmu yang sifatnya seperti pinang dibelah dua dengan wanita. Saat Anda memburu suatu Ilmu, dengan bersusah payah dan akhirnya Anda merasakan mudahnya ilmu tersebut, mulai merasakan indahnya ilmu tersebut itu sama saja wanita tersebut mulai jatuh hati pada Anda. JANGAN DIKHIANATI .. maju terus sampai benar2 ilmu tersebut Anda miliki, anda gauli, anda nikmati dan membuahkan hasil yang manfaat.

Jika Anda mundur sebelum memperolehnya, maka pendekatan yang kedua akan lebih sulit. Begitupun jika Anda mundur untuk kesekian kalinya, pendekatan berikutnya akan semakin sulit.

Sabtu, 03 Oktober 2009

Menguak kedermawan ureung Aceh

KALI ini, kita menguak sedikit tradisi sumbang menyumbang masyarakat Aceh. Ternyata, Aceh tak cuma memberi modal kepada pemerintah RI, tapi juga kepada Tanah Hijaz pada abad ke-17 Masehi. Ini menarik agar kita tahu bagaimana kontribusi Aceh atas tanah hijaz (sekarang bernama Saudi Arabia, red), dimana orang Aceh tidak hanya mewakafkan tanah, melainkan juga emas yang didatangkan khusus dari bumi Serambi ke negeri Mekkah Almukarramah ini. Bagi masyarakat Aceh, sumbangan yang paling diingat adalah ketika mereka memberikan emas kepada pemerintah RI untuk membeli pesawat Garuda pada tahun 1948. Sebagiannya juga bisa dilihat pada tugu MONAS (Monumen Nasional). Ini kebanggaan rakyat Aceh. Namun jika kita kuak sejarah kedermawaan Aceh, maka tradisi menyumbang ini sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.Syahdan, pada tahun 1672 M Syarif Barakat penguasa Mekkah pada akhir abad ke 17 mengirim duta besarnya ke timur. Mencari sumbangan untuk pemeliharaan Masjidil Haram. Karena kondisi Arab pada saat itu masih dalam keadaan miskin. Kedatangan mareka ke Aceh setelah Raja Moghol, Aurangzeb (1658-1707) tidak mampu memenuhi keinginan Syarif Barakat itu. Dia saat itu belum sanggup memberi sumbangan seperti biasanya ke Mesjidil Haram. Setelah empat tahun rombongan Mekkah ini terkatung katung di Delhi India. Atas nasehat pembesar di sana, rombongan ini berangkat ke Aceh dan tiba di Aceh pada tahun 1092 H (1681M).Sampai di Aceh, duta besar Mekkah ini disambut dan dilayani dengan baik dan hormat oleh Seri Ratu Zakiatuddin Inayatsyah (1678-1688 M). Di luar dugaan, kedatangan utusan syarif Mekkah ini menyulut semangat kelompok wujudiyah yang anti pemerintahan perempuan. Namun, karena sosok Sultanah Zakiatuddin yang ‘alim dan mampu berbahasa Arab dengan lancar. Bahkan menurut sejarah, dia berbicara dengan para tamu ini dengan menggunakan tabir dari sutra Dewangga (Jamil: 1968). Utusan Arab sangat gembira diterima oleh Seri Ratu Zakiatuddin, karena mareka tidak mendapat pelayanan serupa ketika di New Delhi, India. Bahkan empat tahun mareka di India, tidak dapat bertemu Aurangzeb. Ketika mereka pulang Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah, memberi mareka tanda mata untuk rombongan dan Syarif Mekkah juga sumbangan untuk Mesjidil Haram dan dan Mesjidil Nabawi di Madinah terdiri dari: tiga kinthar mas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (jeuebeuet musang), tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas, dua lampu kaki (panyot-dong) dari emas, lima lampu gantung dari emas untuk Masjidil Haram, lampu kaki dan kandil dari emas untuk Masjid Nabawi.Pada tahun 1094 (1683 M) mareka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 H (September 1683 M). Dua orang bersaudara dari rombongan duta besar Mekkah ini yakni Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim, tetap menetap di Aceh atas permintaan para pembesar negeri Aceh yang dalam anti raja perempuan (Jamil: 1968). Mereka dibujuk untuk tetap tinggal di Aceh sebagai orang terhormat dan memberi pelajaran agama dan salah satu dari mereka, kawin dengan Kamalat Syah, adik Zakiatuddin Syah.Lima tahun kemudian setelah duta besar Mekkah kembali ke Hijaz dengan meninggalkan Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim di Aceh, Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah wafat tepat pada hari Ahad 8 Zulhijjah 1098H (3 Oktober 1688 M). Pemerintahan Aceh digantikan oleh adiknya yaitu Seri Ratu Kamalatsyah yang bergelar juga Putroe Punti. Dia diangkat menjadi Ratu pemerintahan kerajaan Aceh atas saran Syeikh Abdurrauf Al Fansury yang bertindak pada saat itu sebagai Waliyul-Mulki (Wali para Raja). Baru setelah meninggalnya Syeikh Abdurrauf pada malam senin 23 Syawal 1106 H (1695M), konflik mengenai kedudukan pemerintahan Aceh dibawah pemerintahan ratu yang telah berlangsung 54 tahun sejak Safiatuddin Syah (1641-1675M), terguncang kembali. Hal ini dipicu oleh fatwa dari Qadhi Mekkah tiba. Menurut sejarah, “fatwa import” ini tiba dengan “jasa baik” dari golongan oposisi ratu. Lalu pemerintah Aceh, diserahkan kepada penguasa yang berdarah Arab, yaitu salah satu dua utusan Syarif dari Mekkah, yakni suami ratu Kemalatsyah, Syarif Hasyim menjadi raja pada hari Rabu 20 Rabi`ul Akhir 1109 H (1699M). Menurut sejarah, Ratu tersebut dimakzulkan akibat dari “fatwa import” tersebut. Lalu kerajaan Aceh memiliki seorang pemimpin yang bergelar Sultan Jamalul Alam Syarif Hasyim Jamalullail (1110-1113 H/1699-1702M). dengan berkuasanya Syarif Hasyim awal dari dinasti Arab menguasai Aceh sampai dengan tahun 1728 M. Inilah bukti sejarah bahwa kekuasaan para Ratu di Aceh yang telah berlangsung 59 tahun hilang setelah adanya campur tangan pihak Mekkah, paska para ratu ini menyumbang emas ke sana. Aceh yang dipimpin oleh perempuan selama 59 tahun bisa jadi bukti bagaimana sebenarnya tingkat emansipasi perempuan Aceh saat itu (Azyumardi Azra, 1999).Terkait dengan sumbangan emas yang diberikan oleh Ratu kepada rombongan dari Mekkah, ternyata menjadi perbincangan dan perdebatan di Mekkah. Disebutkan bahwa sejarah ini tercatat dalam sejarah Mekkah dimana disebutkan bahwa emas dan kiriman sultanah Aceh tiba di Mekkah di bulan Syakban 1094 H/1683 M dan pada saat itu Syarif Barakat telah meninggal. Pemerintahan Mekkah digantikan oleh anaknya Syarif Sa’id Barakat (1682-1684 M). Snouck Hurgronje, menuturkan “Pengiriman Seorang Duta Mekkah ke Aceh Pada Tahun 1683” sempat kagum terhadap kehebatan Aceh masa lalu dan dicatat dalam bukunya, dimana sewaktu dia tiba di Mekkah pada tahun 1883.Ternyata sumbangan kerajaan Aceh 200 tahun yang lalu masih hangat dibicarakan disana. Menurutnya berdasarkan catatan sejarah Mekkah yang dipelajarinya barang barang hadiah itu sempat disimpan lama di rumah Syarif Muhammad Al Harits sebelum dibagikan kepada para Syarif yang berhak atas tiga perempat dari hadiah dan sedekah diberikan kepada kaum fakir miskin sedangkan sisanya diserahkan kepada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.Sebagaimana telah saya paparkan beberapa minggu yang lalu bahwa peninggalan Aceh di Mekkah bukan hanya sumbangan emas pada masa pemerintahan ratu ini juga harta harta wakaf yang masih wujud sampai saat ini seperti wakaf Habib Bugak Asyi, wakaf Syech Muhammad Saleh Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah (sertifikat No. 324) di Qassasyiah, Wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (Pasar Seng), wakaf Muhammad Abid Asyi, Wakaf Abdul Aziz bin Marzuki Asyi, wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina, Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab di Mina, Wakaf Muhammad Saleh Asyi di Jumrah ula di Mina, Rumah Wakaf di kawasan Baladi di Jeddah, Rumah Wakaf di Taif, Rumah Wakaf di kawasan Hayyi al-Hijrah Mekkah , Rumah Wakaf di kawasan Hayyi Al-Raudhah, Mekkah, Rumah Wakaf di kawasan Al Aziziyah, Mekkah. Ada juga wakaf Aceh di Suqullail, Zugag Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang belum diketahui pewakafnya. Baru-baru ini ada juga rumah wakaf Syech Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) di Syamiah Mekkah, Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga) di Syamiah, Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi di Syamiah. Itu secuil catatan yang tercecer, tentang wakaf orang Aceh di Tanah Arab, walaupun generasi sekarang hanya mengenal bahwa Aceh adalah Serambi Mekkah. Namun sebenarnya ada rentetan sejarah yang menyebabkan Aceh memang pernah memberikan kontribusi penting terhadap pembinaan sejarah Islam di Timur Tengah. Karena itu, selain Aceh memproduksi Ulama, ternyata dari segi materi, rakyat Aceh juga memberikan sumbangan dan wakaf yang masih bisa ditelusuri hingga hari ini. Karena itu, saya menduga kuat bahwa tradisi Islam memang telah dipraktikkan oleh orang Aceh saat itu, dimana “tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah.” Akibatnya, kehormatan orang Aceh sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Dalam hal ini, harus diakui bahwa Snouck telah “berjasa” merekam beberapa akibat dari episode sejarah kehormatan orang Aceh. Inilah pelajaran penting bagi peneliti sejarah Aceh, dimana selain bukti-bukti otentik, sejarah juga bisa ditulis melalui oral history (sejarah lisan). Pelajaran ini sangat penting bagi generasi sekarang untuk melacak dimana peran orang Aceh di beberapa negara, termasuk di Timur Tengah.

Kamis, 01 Oktober 2009

Syeikh Muhammad Zain al-Asyi

DALAM catatan yang tercecer, kali ini, saya ingin menulis seorang ulama yang amat tersohor pada abad ke-18, yakni Syeikh Muhammad Zain al-Asyi. Walaupun namanya belum diabadikan seperti Syeikh Nurdin Ar-Raniri dan Syeikh Abdur Rauf al-Singkili, ulama ini (Syeikh Muhammad Zain al-Asyi) namanya telah tertoreh di dalam sejarah intelektual Islâm di Mekkah dan juga Aceh. Pengaruh intelektualnya sampai ke negeri Pattani, Thailand. Kiprah ulama ini pantas diangkat sekaligus ingin melihat apakah ulama seperti ini masih dijumpai di Aceh sekarang, dengan memiliki karya dan pengaruh sampai ke jazirah Arab. Mungkin inilah kegelisahan saya, kenapa begitu susah mencari sosok ulama seperti Syeikh Muhammad Zain al-Asyi.Dalam kenyataan sejarah, kemajuan Aceh tempoe doeloe, tidak hanya disebabkan karena kemampuan penguasaan wilayah yang sampai ke semenanjung tanah Melayu (Malaysia sekarang ini), juga disebabkan kemajuan pesat dibidang ilmu pengetahuan. Bahkan Aceh pada saat itu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan di Asia Tenggara. Disebutkan bahwa para pelajar di Nusantara ini sebelum melanjutkan perjalanan mencari ilmu di Timur Tengah (Mekkah dan Mesir) terlebih dahulu singgah di Aceh untuk belajar pada ulama Aceh, seperti Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan di Jawa Barat, seorang ulama yang membawa Tarekat Syathariyah ke tanah Jawa. Demikian pula, Syeikh Yusuf Tajul Makassari Bugis, ulama yang membawa Tarekat Syathariyah ke Sulawesi. Bahkan ulama dari Tanah Melayu, seperti Syeikh Abdul Malik bin Abdullah Terengganu atau Tok Pulau Manis pengarang Kitab Kifayah. Syeikh Abdur Rahman Pauh Bok al-Fathani, Syeikh Haji Abdur Rauf ibnu Makhalid Khalifah al-Qadiri al-Bantani, Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani pengarang kitab Hidayatul Muta’allim (1244 H), Fathul Mannan (1249 H), Jawahirus Saniyah (1252 H) Kitab tasauf yang tebal dan luas perbahasannya adalah Jam’ul Fawaid . Penuntut penuntut Islam di Asia Tenggara akan belajar ke Aceh dulu sebelum berangkat ke Mekkah. Bukti sejarah ini, bisa terlihat misalnya dalam syair yang terkenal dalam dunia Melayu sebagai berikut:. Tiga bulan dari Aceh lebih kurang, Pelayaran kapal lalu menyeberang, Bertiup angin dari belakang, Sampai ke Jeddah laut yang tenang. Salah satu ulama Aceh yang terkenal pada saat itu adalah Syeikh Muhammad Zain Al Asyi anak daripada Syeikh Jalaluddin bin Syeikh Kamaluddin bin Kadi Baginda Khatib al-Asyi. Ayahnya tersebut pengarang kitab Hidayah al-’Awam (1140 H/1727 M). Ayah Syeikh Muhammad Zain Al Asyi adalah Kadi Malikul Adil dalam masa pemerintahan Sultan Alauddin Maharaja Lela Ahmad Syah (1139 H/1727 M - 1147 H/1735 M) juga pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Johan Syah (1147 H/1735 M -1174 H/1760 M).Syeikh Muhammad Zain Al Asyi di antara ulama Aceh terkenal di nusantara, bersama ayahnya Syeikh Jalaluddin Asyi paska wafat Syeikh Abdurrauf Al Fansuri Assingkili. Ada beberapa karyanya yang masih bisa dibaca hingga hari ini, seperti kitab Bidayah al-Hidayah, kitab ilmu tauhid yang ditulis pad tahun 1170 H/1757 M. Kitab Bidayah al-Hidayah karya Syeikh Muhammad Zain Aceh agaknya tidak ada hubungannya dengan kitab yang sama judulnya Bidayah al-Hidayah karya Imam Al Ghazzali yang hanya membicarakan masalah memperbanyak amal dalam ilmu tasauf sedangkan Kitab Bidayah al-Hidayah karya ulama Aceh ini membahas mengenai ilmu akidah. kitab ini sampai sekarang masih diajar tidak hanya di Aceh tetapi juga diseluruh wilayah Indonesia, Thailand, Malaysia, Brunai dan selatan Philipina. Bahkan sewaktu penulis pergi salah satu propinsi di Kambodia, kitab ini diajar di madrasah madrasah Islam di negeri tersebut. Syeikh Muhammad Zain Al Asyi muncul dalam peradaban Islâm dunia Melayu paska kejayaan ulama sufi terkemuka yakni Syeikh Hamzah al-Fansuri (wafat 1016 H/1607 M) dan muridnya Syeikh Syamsuddin Sumatrani (wafat pada Jum’at, 12 Rejab 1039 H/25 Februari 1630 M) sampai zaman Syeikh Nuruddin ar-Raniri (wafat 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M). Namun, para sejarawah lebih banyak mengkaji kontribusi Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Abdur Rauf, dan Syeikh Nurdin. Untuk mengkaji biografi mereka, ada para sarjana yang telah menulis kisah kehidupan ulama tersebut seperti Syed Naquib Al-Attas, Azyumardi Azra, Tudjimah, dah Ahma Daudy. Sayang, data sejarah mengenai Syeikh Muhammad Zain masih mengundang sejumlah penelitian lanjutan. Syeikh Muhammad Zain Asyi mendapat pendidikan asas secara tradisional dari ayahnya dan daripada ulama-ulama Aceh yang terkenal termasuk para guru ayah beliau sendiri. Syeikh Muhammad Zain Aceh sempat belajar kepada Baba Daud bin Agha Ismail bin Agha Mustata al-Jawi ar-Rumi. pengarang kitab Masa’il al-Muhtadi yaitu murid Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri. Baba Daud inilah yang menyempurnakan karya gurunya Syeikh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri yang berjudul Turjuman al-Mustafid atau yang lebih terkenal dengan Tafsir al-Baidhawi dalam bahasa Melayu. Salah seorang sarjana yang telah mengupas beberapa isi kitab ini adalah A.H. John, dari Australia. Setelah itu, Syeikh Muhammad Zain al-Asyi melanjutkan pelajarannya ke Mekah. Gurunya di Mekah ialah Syeikh Muhammad Said, Syeikh Abdul Ghani bin al-Alim Muhammad Hilal, Syeikh Ahmad al-Farsi (ulama kelahiran Mesir) dan Syeikh Ahmad Durrah (juga ulama kelahiran Mesir). Melihat jaringan intelektual Syeikh Muhammad Zain, saya beranggapan bahwa ilmu-ilmu ulama ini sangat luar biasa. Sebelum pulang ke Aceh, Syeikh Muhammad Zain Aceh sempat mengajar di Masjid al-Haram Mekah dan di rumahnya. Berdasarkan manuskrip karya Syeikh Haji Abdur Rauf ibnu Makhalid Khalifah al-Qadiri al-Bantani dapat disimpulkan bahwa pada zaman yang sama terdapat dua ulama yang bernama Muhammad Zain di Mekah. Yang pertama ialah Muhammad Zain al-Mazjaji al-Yamani berasal dari Yaman dan seorang lagi ialah Muhammad Zain al-Asyi berasal dari Aceh. Boleh jadi, Syeikh Muhammad Zain ini menjadi bagian dari ‘duta ilmu Aceh’ yang bagi generasi muda sekarang masih sangat asing namanya.Karya karya Syeikh Muhammad Zain Asyi adalah sebagai yang berikut: Ilmu Tauhid, ditulis tahun 1114 H/1702 M, Bidayah al-Hidayah, selesai ditulis pada 24 Syaaban 1170 H/14 Mei 1757 M, Kasyf al-Kiram, selesai ditulis pada 8 Muharam 1171 H/22 September 1757 M, Talkish al-Falah fi Bayan Ahkam at-Thalaq wa an-Nikah, tanpa tarikh, Risalah Dua Kalimah Syahadah, tanpa tarikh, Faraidh al-Quran, tanpa tarikh, Masalah al-Faraid, tanpa tarikh, doa Hizb al-Bahri, tanpa tarikh. Daripada karya yang termaktub dalam senarai di atas, Bidayah al-Hidayah adalah karya Syeikh Muhammad Zain Aceh yang paling berpengaruh. Manuskrip salinan kitab itu sangat banyak dijumpai..Di antara murid Muhammad Zain Asyi yang diketahui dan menjadi ulama terkenal di dunia Melayu ialah Syeikh Haji Abdur Rauf ibnu Makhalid Khalifah al-Qadiri al-Bantani, Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani pengarang kitab Hidayatul Muta’allim (1244 H), Fathul Mannan (1249 H), Jawahirus Saniyah (1252 H) Kitab tasauf yang tebal dan luas perbahasannya adalah Jam’ul Fawaid .Inilah sekelumit penggalan sejarah ulama Aceh yang jarang diangkat ke permukaan, baik oleh orang Aceh sendiri, maupun para sarjana yang menekuni sejarah jaringan intelekual Islâm Timur Tengah. Saya menganggap bahwa ulama ini menjadi salah satu simpul keilmuan Islâm Nusantara. Bagi kita dewasa ini, menyebut nama ulama terdahulu, pasti akan selalu terkait dengan guru dan karya mereka, yang masih bisa dibaca hingga hari ini. Namun, menyebut nama-nama ulama sekarang, kita malah giring pada persoalan yang keduniaan, seperti persoalan politik (baca: kekuasaan). Ulama terdahulu sibuk mencari ilmu sampai pada Mekkah. Sekarang semangat ini jarang kita lihat, dimana tidak sedikit ulama lokal yang hanya berpuaskan diri dengan kualitas ilmu yang mereka dapatkan di Aceh. Istilah meudagang menjadi simbol mencari ilmu dewasa dulu, terlihat dari jaringan guru dan karya-karya mereka. Membaca sejarah ulama kontemporer Aceh, saya sulit menemukan fenomena seperti Syeikh Muhammad Zain al-Asyi.Tentu saja ini menjadi ‘cermin sejarah’ bagi ulama Aceh saat ini. Ulama itu dikenal karena karya, bukan karena persoalan sosial politik. Ulama dikenal karena kehebatan gurunya, bukan karena kedekatan dengan penguasa. Mungkin inilah hikmah terpenting bagaimana agar semangat dan ruh intelektual seperti Syeikh Muhammad al-Asyi bisa bangkit kembali. Dengan demikian, kehebatan dan kehormatan wangsa Aceh akan kembali lagi, manakala ada segolongan ulama yang betul-betul berkhidmat kepada ilmu-ilmu Allah. Mari kita menanti ada ulama Aceh masa kini yang bisa menghasilkan karya-karya yang bisa dinikmati oleh generasi

Jejak yg tercecer



Mencari jejak sejarah Aceh yang tercecer


Tgk Imuem Lueng Bata Ultimatum Habib Abdurrahman Az ZahirPERANG Aceh dan Belanda ditabuhkan pada tanggal 26 Maret 1873. Saya akan menukil secarik surat Tgk. Imuem Lueng Bata yang dikirim ke Habib Abdurrahman az-Zahir yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Kerajaan Aceh Darussalam, sebagai ultimatum untuk menghentikan perundingan dengan Belanda di Singapura;“Saudara lebih baik tidak lama lama tinggal di situ atau membuat janji yang sia-sia karena kami telah bersumpah di atas Al Qur’an bahwa selama nyawa masih di kandung badan atau salah satu dari kami masih hidup maka kami sudah pasti tidak akan bersahabat dengan Belanda” (surat ini dikirim pada bulan Mei 1874).Surat itu tak banyak diketahui dan tercecer dari catatan sejarah Aceh. Dan Tgk Imuem Lueng Bata, seorang ulama karismatik yang menjadi pemimpin perang Aceh dengan Belanda mengirim surat itu setelah. Menurut sejarah, surat ini sudah mendapat persetujuan dari Panglima Polem, Tuanku Hasyim dan beberapa pemimpin terkemuka lainnya. Tujuan surat tersebut adalah untuk Habib Abdurrahman Az Zahir, Teuku Paya dan Nyak Abbas yang lagi bulak balik Penang, Johor dan Singapura. Mereka yang berdomisili di luar negeri tersebut ditugaskan untuk mencari dukungan diplomatik dari beberapa Negara besar seperti Inggris, Perancis,dan Amerika Serikat. Mereka juga mendapat tugas untuk melakukan hubungan yang intesif dengan pihak Belanda untuk menjajaki perundingan antara Aceh dengan Belanda.Sikap pemimpin Aceh yang mencabut surat dukungan untuk Habib Abdurrahman Az Zahir dan kawan kawannya sebagai juru runding dari pihak Aceh dengan Belanda di Singapora tidak terlepas karena sikap Jenderal Van Swieten yang menganggap Aceh telah ditaklukinya dengan menguasai Dalam (Istana Sultan) pada bulan Januari 1874. Padahal utusan Jenderal Loudon, Gubernur Hindia Belanda di Jakarta yakni Kapten Roura (Reid: 1969) yang ditemani oleh Teuku Nek Meuraksa telah bertemu juru runding Aceh Habib Abdurrahman dan kawan-kawan di Singapura pada tanggal 20 Juli 1874.Saat itu, Roura meminta Loudon mengkomunikasikan dengan penguasa perang Aceh Jenderal Van Swieten, tetapi dijawab oleh Van Swieten pada tanggal 23 Juli 1874: Di Kutaraja kita kuat, sangat kuat, dan kita dapat dengan segala kekuatan kita menolak semua yang tidak termasuk ke dalam menyerah tanpa syarat. Dengan berpegang teguh pada ini kita akan dapati dengan sangat cepat mewujudkan akhir dari peperangan, terutama jika kita menolak campur tangan siapapun kecuali campur tangan kepala kepala suku yang popular (ulubalang yang menyerah)Ituah yang memantik perang Aceh makin membara, selain keangkuhan Belanda juga adanya pengkhianatan yang dilakukan oleh salah seorang warga Arab-Aceh, Habib. Para ulama dan pemimpin di Aceh lebih mengedepankan sikap berjuang melawan Belanda, ketimbang berunding apalagi menyerah kepa da Belanda. Harus diakui bahwa inilah sikap awal mengapa rakyat Aceh tidak pernah mau menyerah di bawah pendudukkan Belanda. Keangkuhan Jenderal Van Swieten ini harus ditebus mahal Belanda dalam sejarah perang kolonialnya di Hidia Belanda (Indonesia) bahkan personil personil terbaiknya korban di Aceh seperti Jenderal Kohler, Jenderal Pel, Jenderal Demmenie. Sekarang masih bisa kita saksikan di Kerkohf dan hampir seluruh wilayah Aceh baik di pesisir maupun di dataran tinggi Gayo dan Alas. Dan ratusan ribu kaum muslimin Aceh baik yang berada di pesisir maupun didataran tinggi Gayo dan Alas syahid dalam perang yang terlama dalam sejarah colonial Belanda di Nusantara.Sebagai “hadiah” terhadap sikap lunak Habib Abdurrahman, dia pada tanggal 13 Oktober 1878 bersama teman temannya Teuku Muda Baet memilih menyerah kepada Belanda di Kuta Raja. Sebagai imbalannya Gubernur Hindia Belanda (Indonesia) Jenderal Van Lansberge di Batavia (Jakarta) bersedia memberangkatkan Habib Abdurrachman Az Zahir dan pengikutnya ke Jeddah dengan kapal NV Cuaracao. Dia sendiri, menurut para peneliti sejarah, telah mendapat pensiun dari pemerintah Belanda 10.000 dollar per bulan atas jasa “menjual bangsanya” kepada Belanda. Disebutkan bahwa yang mengantarkan Habib ini adalah Mayor Macleod ke Jeddah. Perangai Habib ini kemudian dipelesetkan dari lagu “Faldera Dera” yang sangat terkenal di Hindia Belanda (Indonesia) oleh Macleod menjadi://Nun di sana terapung istana Samudra/ Namanya Cuaracao/ Habib yang berani akan dibawa/ ke Mekkah tujuan nyata/ Kini ia berdendang riang Faldera Dera Untuk gubernemen kita/ Banyaknya sekian ribuan dolar sebulan Tidak cerdikkah saya?//Ada beberapa hikmah dari dua surat dan sikap “lunak” Habib Abdurrahman. Pertama, sebenarnya Belanda punya keinginan kuat untuk mengakhiri perang mereka di Aceh, namun karena Jenderal van Swieten telah menguasai simbol rakyat Aceh yaitu dalam (istana), namun dia abai bahwa simbol rakyat Aceh tidak hanya ada pada istana, namun yang paling penting adalah pada ulama dan pemimpin lainnya di luar istana. Inilah awal kesalahan Belanda di dalam sejarah perang mereka di Aceh. Itu ditunjukkan dari sikap kesatria oleh Tgk. Imuem Lueng Bata ketika menginginkan simbol rakyat Aceh harus dipertahankan, yaitu agama (baca melawan kafir).Kedua, pola pengkhianatan yang dilakukan oleh Habib Abdurrahman adalah bukti kuat bahwa di dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh pengkhianat selalu muncul, tidak mengenal title dan derajat sosial mereka. Ketiga, pelajaran yang paling bermakna dari sikap awal ulama menentang Belanda ini adalah semangat jihat rakyat Aceh tidak pernah padam, walaupun sang penjajah telah mengklaim menguasai simbol-simbol kekuasaan. (bersambung..)